Bayangkan suasana rapat dinas di madrasah menjelang akhir September. Surat undangan sudah dicetak 120 lembar, kop surat rapi, nomor surat lengkap. Lalu seorang guru mengangkat tangan: “Pak, ini tertulis di hadapan Ibu Kepala Madrasah, harusnya…” Hening. Semua mata menuju ke satu lemparan surat.
Kejadian seperti itu sering muncul bukan karena guru tidak bisa berbahasa Indonesia, melainkan karena pedomannya jarang dibuka ulang. Padahal, sejak 16 Agustus 2022 pedoman resmi ejaan bahasa Indonesia sudah punya edisi terbaru: Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) edisi kelima, ditetapkan lewat Keputusan Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Nomor 0424/I/BS.00.01/2022.
Artikel ini bukan pembahasan panjang soal kaidah. Ini kumpulan aturan EYD V yang paling sering dipakai di pekerjaan sekolah sehari-hari — surat dinas, undangan, sertifikat, laporan hasil belajar, pengumuman, sampai keterangan di rapor — plus daftar kesalahan yang paling sering lolos di dokumen sekolah.
Apa Itu EYD V dan Kenapa Sekolah Perlu Peduli?
EYD V adalah pedoman ejaan resmi yang dapat dipakai oleh instansi pemerintah, swasta, maupun masyarakat dalam penggunaan bahasa Indonesia secara baik dan benar. Isinya mencakup penggunaan huruf, penulisan kata, penggunaan tanda baca, dan penulisan unsur serapan.
Yang penting untuk dipahami: EYD V menggantikan PUEBI, bukan melengkapinya. PUEBI ditetapkan lewat Permendikbud Nomor 50 Tahun 2015 dan berlaku sejak itu, tetapi dengan terbitnya SK Nomor 0424/I/BS.00.01/2022, acuan resmi yang berlaku sekarang adalah EYD edisi kelima. Jadi kalau di ruang guru masih ditempel poster berjudul PUEBI, isinya masih banyak yang relevan, tetapi ada sejumlah perbedaan yang perlu dicek ulang.
Untuk sekolah dan madrasah, pedoman ini bukan sekadar soal “tidak mau salah”. Ada tiga alasan praktis:
- Surat dinas mewakili lembaga. Kesalahan ejaan di surat resmi terbaca sebagai kelalaian administrasi, bukan sekadar kelalaian individu.
- Karya tulis siswa mengikuti acuan yang sama. Guru bahasa Indonesia perlu menilai dengan patokan yang berlaku, bukan patokan lama.
- Dokumen sekolah dibaca pihak luar. Pengawas, dinas pendidikan, dan yayasan menilai rapi atau tidaknya administrasi dari hal-hal kecil seperti kapitalisasi nama jabatan dan penulisan angka.
Kabar baiknya, EYD V bisa diakses gratis lewat laman resmi ejaan.kemendikdasmen.go.id. Laman ini bisa dibuka dari HP, jadi bisa dipakai mendesak saat mengetik surat.
Aturan yang Paling Sering Dipakai di Dokumen Sekolah
1. Kata depan “di”, “ke”, “dari” selalu terpisah
Ini kesalahan nomor satu di dokumen sekolah. Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
- Benar: di ruang kelas, ke kantor, dari madrasah, di dalam lemari, ke luar kota
- Salah: diruang kelas, kekantor, darimadrasah
Bedakan dengan awalan di- yang berfungsi sebagai pembentuk kata kerja pasif dan ditulis serangkai: dijual, dibagikan, disimpan, dipindahkan. Kuncinya sederhana: kalau kata setelahnya bukan kata yang menyatakan tempat, arah, atau waktu, biasanya itu awalan.
2. Huruf kapital untuk nama jabatan dan instansi
Untuk nama lembaga, badan, organisasi, dan dokumen, huruf kapital dipakai pada huruf pertama semua kata, kecuali kata tugas (dan, atau, untuk, di, ke, dari, yang).
- Benar: Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Malang, Yayasan Pendidikan Islam Al-Hikmah
- Salah: Madrasah aliyah negeri 2 Kota Malang, yayasan pendidikan islam al-hikmah
Untuk nama jabatan: huruf kapital dipakai jika jabatan itu diikuti nama orang atau menggantikan nama orang/instansi. Contoh: Kepala Sekolah SMA Negeri 1, Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaan, Ketua Yayasan. Kalau jabatan itu berdiri sendiri tanpa nama, tidak perlu kapital: Setiap kepala sekolah wajib menyusun program kerja.
Tiga hal kecil yang sering terlewat:
- Kata Anda ditulis dengan huruf awal kapital.
- Istilah kekerabatan yang diikuti kata kepemilikan ditulis nonkapital: Kita harus menghormati bapak dan ibu kita (bukan Bapak dan Ibu kita).
- Nama hari, bulan, hari besar, dan hari raya pakai kapital: hari Kamis, bulan September, Hari Pendidikan Nasional, Hari Raya Idulfitri.
3. Kata yang bermakna “anak dari” tidak pakai kapital
bin, binti, boru, dan van ditulis dengan huruf kecil, kecuali berada di awal nama atau awal kalimat. Contoh: Ahmad Fauzi bin Abdul Karim. Ini sering muncul di daftar siswa, data pokok pendidikan, dan undangan pernikahan wali murid.
4. Bilangan satu kata ditulis dengan huruf
Bilangan yang bisa dinyatakan dengan satu kata ditulis dengan huruf, kecuali dipakai berurutan dalam perincian. Di dokumen sekolah, aturan ini menempel di pengumuman:
- Benar: “Rapat dihadiri tiga orang perwakilan tiap kelas.”
- Benar: “Peserta lomba terdiri atas 120 siswa, 15 guru pendamping, dan 8 orang tua.”
- Salah: “Rapat dihadiri 3 orang perwakilan tiap kelas.”
Kalau angka dipakai di awal kalimat, susunan kalimatnya diubah atau didahului kata sebanyak, sejumlah, sebesar:
- Benar: “Sebanyak 250 siswa mengikuti kegiatan Masa Ta’aruf.”
- Salah: “250 siswa mengikuti kegiatan Masa Ta’aruf.”
5. Angka tahun, nomor, dan NIP tidak pakai titik
Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan yang menunjukkan jumlah, tetapi tidak dipakai kalau angka itu bukan menyatakan jumlah.
- Benar: “Madrasah menerima 750 siswa baru.” dan “Anggaran kegiatan mencapai Rp45.750.000,00.”
- Benar: “Ia lahir pada tahun 2009.” dan “Dia diangkat dengan NIP 199701112015041002.”
- Salah: tahun 2.009, NIP 1997.01112.01504.1002, Nomor 1.205 (kalau 1205 adalah nomor ruang)
Perhatikan juga cara menulis rupiah: lambang Rp tidak diikuti tanda titik dan spasi. Tulis Rp45.750.000,00 atau Rp45,7 juta, bukan Rp. 45.750.000,-.
6. Singkatan dan akronim
Aturan EYD V soal singkatan sangat sering terpakai di surat maupun surat tugas:
- Singkatan nama orang, gelar, sapaan, dan pangkat pakai titik di setiap unsur: S.Pd., M.Hum., Hj., Drs., Prof., H.
- Singkatan yang terdiri atas huruf awal setiap kata tanpa titik, dan ditulis kapital: SD, MAN, PGRI, NIP, KTP, PAUD
- Singkatan yang lazim di dokumen atau surat-menyurat pakai titik: dkk., dll., dsb., dst., hlm., ttd., ybs., a.n., u.b., u.p., s.d.
- Singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tanpa titik: Rp, km, kg, l, kVA
Ini penting karena dua kebiasaan sekaligus salah: menulis SD. (pakai titik) dan menulis dll (tanpa titik). Dua-duanya terbalik.
7. Tanda baca yang menempel di surat dan sertifikat
Beberapa aturan tanda baca langsung terasa di dokumen sekolah:
- Tanda koma dipakai sesudah salam pembuka, salam penutup, dan nama jabatan penanda tangan: Dengan hormat, dan Kepala Madrasah,
- Tanda koma dipakai di antara nama orang dan singkatan gelar akademis: Siti Aminah, S.H., M.H. — bukan Siti Aminah S.H. M.H.
- Tanda koma tidak dipakai kalau induk kalimat mendahului anak kalimat: Saya akan datang kalau diundang. (tanpa koma), sedangkan Kalau diundang, saya akan datang. (pakai koma)
- Tanda titik tidak dipakai di belakang alamat penerima surat dan tanggal surat.
- Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul dan subjudul, termasuk judul bab di laporan hasil belajar atau program kerja.
- Tanda petik mengapit judul artikel, judul lagu, judul puisi, judul bab buku, judul pidato/khotbah, dan tema kegiatan: Kongres Bahasa Indonesia XI bertema “Menjayakan Bahasa dan Sastra Indonesia.”
- Tanda titik dua dipakai pada akhir pernyataan lengkap yang langsung diikuti perincian: Panitia memerlukan perlengkapan: tenda, kursi, dan pengeras suara. Kalau perincian itu bagian dari kalimat lengkap, titik dua tidak dipakai.
8. Huruf miring untuk judul buku dan istilah asing
Huruf miring dipakai untuk menuliskan judul buku, film, album lagu, acara televisi, siniar, dan nama media massa yang dikutip dalam tulisan. Contoh: Bumi Manusia, Kompas, Siniar Celetuk Bahasa.
Huruf miring juga dipakai untuk kata atau ungkapan bahasa daerah, bahasa asing, dan nama ilmiah:
- tut wuri handayani
- Garcinia mangostana
- problem based learning
Catatan penting: nama diri dalam bahasa asing atau bahasa daerah, seperti nama orang, lembaga, organisasi, atau merek dagang, tidak ditulis miring. Jadi Google Classroom, Canva, dan Quizizz ditulis biasa — bukan dimiringkan.
Daftar Kesalahan Ejaan yang Paling Sering di Surat Sekolah
Sepuluh temuan berikut paling sering muncul saat menyunting dokumen sekolah dan madrasah:
- di mana / ke kantor ditulis serangkai: dikantor, keruang kelas
- Nama instansi tidak pakai kapital di semua unsurnya: madrasah tsanawiyah negeri
- Nama jabatan dikapitalkan padahal tidak diikuti nama: Kepala Sekolah wajib menyusun program
- Gelar dipisah tanpa koma: Ahmad Fauzi S.Pd. M.Pd.
- Singkatan dibolak-balik: SD. (pakai titik) dan dll (tanpa titik)
- Bilangan di awal kalimat ditulis dengan angka: 150 siswa hadir dalam rapat
- Titik dipakai untuk angka jumlah: tahun 2.026, Nomor 1.250
- Rupiah ditulis Rp. 250.000,-
- Judul tabel atau grafik diakhiri titik: Tabel 3 Jumlah Siswa per Kelas.
- Waktu ditulis campur: pukul 07.30 dan 07:30 dalam satu dokumen
Tips Praktis Menerapkan EYD V di Sekolah
Buat templat surat yang sudah bersih
Cara paling efektif bukan mengingat semua kaidah, melainkan membuat 3–5 templat surat yang sudah disunting sesuai EYD V: surat undangan, surat tugas, surat keterangan, dan surat pemberitahuan. Setelah templat bersih, semua surat berikutnya tinggal ganti isi. Satu kali kerja rapi, ribuan surat berikutnya ikut rapi.
Jadikan EYD V halaman favorit di HP
Simpan ejaan.kemendikdasmen.go.id di layar utama HP ruang guru. Isinya terbagi rapi per topik — huruf kapital, kata depan, singkatan, angka dan bilangan, tanda baca — dan bisa dibuka cepat saat mengetik surat mendesak. Tidak perlu unduh PDF 78 halaman kalau hanya ingin mengecek satu kaidah.
Pakai pemeriksa ejaan sebagai penyaring pertama, bukan hakim terakhir
Pemeriksa ejaan otomatis di Word atau Google Docs berguna untuk menangkap salah ketik, tetapi tidak tahu konteks. Ia tidak bisa membedakan di kantor (kata depan) dari dijual (awalan), dan tidak tahu bahwa nama instansi harus kapital di semua unsurnya. Jadi pakailah sebagai penyaring pertama, lalu cek manual kaidah yang paling sering salah dari daftar di atas.
Buat “daftar periksa 5 menit” sebelum surat dikirim
Sebelum surat dinas dicetak, jalankan lima pemeriksaan cepat ini:
- Cek semua di/ke/dari — terpisah atau serangkai?
- Cek nama instansi dan nama jabatan — sudah kapital di tempat yang benar?
- Cek nama dan gelar — sudah ada koma di antara keduanya?
- Cek singkatan — SD tanpa titik, dll. dengan titik?
- Cek angka — tahun dan nomor tanpa titik ribuan?
Lima langkah ini biasanya menyelesaikan 80 persen kesalahan yang paling sering lolos.
Untuk guru bahasa Indonesia: jadikan bahan ajar, bukan sekadar koreksi
EYD V bisa dipakai sebagai materi pembelajaran berbasis dokumen nyata. Minta siswa membawa satu surat resmi dari rumah (tanpa data pribadi yang sensitif), lalu bedah bersama menggunakan kaidah EYD V. Cara ini jauh lebih melekat dibanding menghafal daftar kaidah, dan sekaligus melatih keterampilan literasi dokumen.
Penutup
Ejaan bukan soal gengsi berbahasa, melainkan soal kerapian lembaga. Satu surat dinas yang ejaannya benar bukan pekerjaan besar — cukup memeriksa lima hal sebelum mencetak. Yang sulit justru konsistensinya: begitu templatnya bersih dan daftar periksa lima menitnya jalan, kerapian itu menular ke seluruh dokumen sekolah.
Yang perlu diingat, acuan yang berlaku sekarang adalah EYD edisi kelima, bukan PUEBI. Simpan laman resminya, cek templat surat sekolah sekali, dan sisanya hanya soal kebiasaan.
Semoga bermanfaat untuk ruang guru dan kantor madrasah. Kalau ada kaidah yang ingin dibahas lebih detail — misalnya penulisan gelar bertingkat, penulisan judul karya tulis siswa, atau penulisan daftar pustaka versi EYD V — tinggalkan di kolom komentar.