Rapat awal semester di sebuah MTs kecamatan berjalan seperti biasa sampai kepala madrasah membuka satu halaman pengumuman. Isinya soal mata pelajaran pilihan baru: Koding dan Kecerdasan Artifisial. Ruangan langsung riuh. Sebagian guru menganggap ini urusan guru komputer. Sebagian lain menanyakan satu hal yang lebih praktis: apakah nanti harus mengajarkan coding dari nol padahal latar belakang pendidikannya bukan TIK?

Pertanyaan itu wajar, dan sebenarnya jawabannya ada di dokumen resminya sendiri. Mata pelajaran ini dirancang dengan prinsip bertahap dan fleksibel, bukan sebagai kewajiban serentak yang menuntut semua sekolah langsung punya laboratorium komputer lengkap. Sayangnya, dokumen pedoman itu jarang dibaca sampai selesai karena bentuknya panjang dan bahasa regulasinya padat.

Artikel ini merangkum hal-hal yang benar-benar dibutuhkan di lapangan: dasar hukumnya, siapa yang boleh mengajar, apa saja yang dikerjakan murid dari tahap paling sederhana, sampai perkiraan kebutuhan alat dan biayanya.

Dasar Hukum: Mata Pelajaran Pilihan, Bukan Beban Baru

Koding dan Kecerdasan Artifisial (disingkat KKA) resmi menjadi mata pelajaran pilihan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Ketentuan statusnya diatur dalam Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025, yaitu perubahan atas Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024 tentang Kurikulum pada PAUD, jenjang pendidikan dasar, dan jenjang pendidikan menengah.

Sementara pedoman pelaksanaannya ada di Kepmendikdasmen Nomor 127/P/2025 tentang Pedoman Implementasi Koding dan Kecerdasan Artifisial pada PAUD, Dikdasmen, yang diterbitkan September 2025. Regulasi terpisah juga menyiapkan Kepmendikdasmen Nomor 126/P/2025 untuk Pembelajaran Mendalam.

Status “pilihan” itu punya tiga konsekuensi praktis yang perlu dipahami kepala sekolah dan guru:

  • Murid tidak wajib semuanya mengambil KKA.
  • Sekolah tidak wajib langsung membuka mata pelajaran ini.
  • Pelaksanaannya menyesuaikan kesiapan satuan pendidikan.

Penerapannya dilakukan bertahap sejak tahun ajaran 2025/2026, dengan tahap awal diarahkan ke kelas V SD/MI, kelas VII SMP/MTs, dan kelas X SMA/SMK/MA. Jadi kalau madrasah Anda belum membuka KKA tahun ini, itu bukan berarti melanggar aturan. Yang menjadi masalah justru kalau sekolah menuliskan KKA di dokumen kurikulum tapi tidak pernah dijalankan, atau membukanya terburu-buru tanpa guru yang siap.

Satu catatan penting untuk kepala sekolah di daerah khusus: pedoman ini menegaskan KKA tidak selalu harus menggunakan komputer dan internet. Ada jalur yang disebut aktivitas unplugged, yang akan dibahas di bagian berikutnya.

Siapa yang Boleh Mengajar KKA

Ini bagian yang paling sering ditanyakan di grup-grup guru. Prinsip pedomannya cukup lapang: KKA dapat diampu guru yang memiliki kompetensi, dan linearitasnya diarahkan pada guru dengan latar belakang yang relevan, misalnya guru TIK, Informatika, Matematika, atau IPA. Namun karena statusnya mata pelajaran baru dan jumlah guru berlatar informatika masih terbatas, banyak sekolah memilih dua jalur realistis.

Jalur pertama, guru mapel pendamping. Sekolah menunjuk satu atau dua guru TIK/Informatika sebagai pengampu utama, lalu memberi mereka kesempatan mengikuti pelatihan KKA melalui platform Merdeka Mengajar, komunitas belajar (kombel) di gugus atau KKG/MGMP, serta bimbingan teknis dari BBPMP/BPMP setempat. Cara ini paling aman karena linearitasnya jelas.

Jalur kedua, tim pengajar lintas mapel. Sekolah membentuk tim kecil berisi guru TIK, guru Matematika, dan satu guru lain yang berminat. Guru TIK mengurus perangkat dan platform, guru Matematika mengurus logika dan penalaran, guru lain mengurus konteks projek. Pembagian ini masuk akal karena berpikir komputasional bukan hanya soal menulis kode, melainkan cara memecah masalah menjadi langkah-langkah yang bisa diselesaikan.

Yang perlu dihindari justru kebiasaan lama: menunjuk guru muda begitu saja hanya karena dia paling fasih memakai komputer. Tanpa dukungan pelatihan, pola itu berakhir dengan satu orang kelelahan dan mapelnya jalan setahun lalu berhenti.

Mulai dari Unplugged: Koding Tanpa Komputer

Kabar baik untuk madrasah dan sekolah yang laboratoriumnya masih terbatas. Pedoman KKA menyediakan lima tahapan pengembangan, dan dua tahap pertama sama sekali tidak memerlukan perangkat digital:

  1. Mengenalkan konsep berpikir komputasional sederhana — dekomposisi, pengenalan pola, abstraksi, dan algoritma.
  2. Melaksanakan aktivitas unplugged — permainan kartu, langkah-langkah di lantai, atau peran berpasangan.
  3. Mulai menggunakan perangkat digital sederhana.
  4. Mengembangkan projek koding.
  5. Mengenalkan pemanfaatan AI secara bijak dan bertanggung jawab.

Contoh aktivitas tahap dua yang bisa langsung dipakai minggu ini, tanpa belanja apa pun:

  • Algoritma langkah. Satu murid menjadi “robot”, murid lain memberi perintah satu per satu (maju dua langkah, belok kanan). Kalau perintahnya salah urutan, robot tersesat. Dari sini murid belajar bahwa urutan itu menentukan hasil.
  • Kartu perintah bersyarat. Susun kartu bertuliskan “jika nilai lebih dari 80, maka pujian” dan variasinya. Ini memperkenalkan percabangan (kondisi) tanpa menyebut istilah teknis.
  • Pola berulang. Minta murid merapikan kursi dengan pola: geser, geser, lurus, ulangi tiga kali. Konsep perulangan masuk tanpa disadari.
  • Cari kesalahan. Berikan langkah membuat teh manis yang sengaja dibalik urutannya. Murid mencari letak kesalahannya. Inilah yang namanya menelusuri bug.

Satu sesi unplugged biasanya cukup untuk 1–2 jam pelajaran, dan hasilnya sering lebih kuat daripada langsung membuka laptop, karena murid fokus pada logikanya, bukan pada menyalakan perangkat.

Tangga Naik: Dari Blok ke Teks

Setelah dua tahap awal berjalan, sekolah bisa naik ke perangkat digital. Urutannya sebaiknya tidak dilompati, karena melewati tahap blok sering membuat murid frustrasi pada sintaks.

Tahap blok (visual). Scratch di scratch.mit.edu dan Code.org adalah pilihan paling umum. Keduanya gratis, berjalan di browser, tersedia dalam bahasa Indonesia, dan bisa dipakai di laptop maupun Chromebook. Untuk usia yang lebih kecil, versi aplikasi ScratchJr juga tersedia di Play Store.

Tahap teks. Python adalah pilihan paling ramah untuk pemula. Alternatif lain yang sering dipakai sekolah menengah adalah JavaScript karena bisa langsung dijalankan di browser. Untuk siswa SMK yang mengambil jurusan teknologi, web (HTML, CSS, JavaScript) biasanya lebih memotivasi karena hasilnya langsung terlihat.

Tahap AI yang bertanggung jawab. Untuk mengenalkan cara kerja AI, ada beberapa alat gratis yang berjalan langsung di browser dan tidak perlu pemasangan aplikasi. Semuanya sudah saya cek dapat diakses dari jaringan sekolah umum di Indonesia:

  • Teachable Machine (teachablemachine.withgoogle.com) — murid melatih model sederhana dari gambar atau suara lewat webcam.
  • Machine Learning for Kids (machinelearningforkids.co.uk) — anak melatih model lalu memakainya di Scratch.
  • Quick, Draw! dan AI Experiments milik Google — pengenalan gambar yang terasa seperti permainan.

Kalau sekolah ingin sekaligus menyinggung sisi perangkat keras, ada dua opsi tanpa membeli apa pun: Microsoft MakeCode untuk simulasi mikrokontroler, dan CoSpaces Edu untuk versi gratis pembuatan projek 3D dan AR/VR sederhana. Untuk eksperimen sains yang mendukung penalaran, PhET (phet.colorado.edu) tetap menjadi favorit karena gratis dan berbahasa Indonesia.

Untuk perangkat keras sungguhan, Arduino dan varian mikrokontroler lokal kini tersedia luas di marketplace Indonesia dengan kisaran Rp70.000–Rp150.000 per board untuk tipe kompatibel dasar, sementara kit lengkap dengan sensor biasanya berada di kisaran Rp350.000–Rp750.000. Ini jenis belanja yang sebaiknya dimulai kecil: satu atau dua kit per kelas, dipakai bergiliran, bukan pengadaan serentak sebelum guru menguasainya.

Peran Perangkat, Anggaran, dan Realitas di Lapangan

Pertanyaan yang paling sering muncul di rapat adalah soal alat. Acuan paling jelas sampai hari ini adalah spesifikasi minimum perangkat TIK sekolah yang ditetapkan lewat Permendikbud Nomor 5 Tahun 2021, yang mengarah pada perangkat bersistem operasi Chrome OS atau setara. Laptop sederhana dengan RAM 4 GB dan penyimpanan 32–64 GB, seperti Chromebook atau laptop Windows entry-level, sudah memadai untuk tahap blok, Python dasar, dan alat AI berbasis browser.

Soal harga, pemerintah tidak menetapkan angka harga melainkan spesifikasi minimumnya. Pembelian lewat e-Katalog LKPP menjadi rujukan harga resmi bagi sekolah negeri. Sebagai gambaran pasar, laptop entry-level berbasis Chrome OS berada di kisaran Rp3–5 juta per unit, sedangkan proyektor 3.000–3.600 lumens berada di kisaran Rp3–6 juta tergantung merek dan resolusi. Perlu diingat juga bahwa perangkat TIK boleh masuk komponen belanja Dana BOS, dengan komponen dan batas persentasenya mengikuti Permendikdasmen Nomor 8 Tahun 2026.

Ada satu hal yang sering terlupakan dalam perhitungan anggaran: paket internet dan listrik. Kelas KKA yang berjalan dengan 20 laptop membutuhkan koneksi yang stabil dan daya yang cukup. Sekolah yang belum menghitung dua komponen ini biasanya mengalami gangguan di tengah semester, bukan di awal.

Empat Aturan AI yang Perlu Disepakati Sebelum Dipakai

Tahap kelima dalam pedoman KKA adalah mengenalkan pemanfaatan AI secara bijak dan bertanggung jawab. Bagian ini paling baik dibuat sebagai kesepakatan tertulis yang dipasang di kelas, bukan sekadar ceramah sekali pertemuan. Isinya cukup empat hal:

  • Bukan sumber tunggal. Jawaban AI harus dicek ke buku, jurnal, atau penjelasan guru.
  • Tidak untuk mengumpulkan tugas jadi. AI boleh dipakai untuk bertanya dan memahami, bukan untuk menghasilkan karya yang kemudian diakui sebagai karya sendiri.
  • Jangan memasukkan data pribadi. Nama lengkap, NISN, alamat, dan foto murid tidak diunggah ke layanan AI apa pun.
  • Sebutkan kalau memakai. Murid yang memakai bantuan AI untuk tugas wajib menuliskannya di bagian akhir.

Kesepakatan seperti ini jauh lebih efektif daripada larangan total. Larangan total biasanya hanya membuat murid memakai AI diam-diam di rumah tanpa pengawasan.

Langkah Praktis: Rencana 12 Minggu untuk Sekolah yang Baru Mulai

Kalau sekolah Anda baru akan membuka KKA semester ini, urutan berikut bisa menjadi kerangka awal:

  • Minggu 1–2. Bentuk tim 2–3 guru, putuskan kelas percontohan (satu kelas V, VII, atau X). Kumpulkan modul ajar KKA dari platform Merdeka Mengajar dan dokumentasi komunitas belajar setempat.
  • Minggu 3–4. Jalankan dua sesi unplugged. Belum perlu komputer. Catat aktivitas mana yang paling membuat murid aktif.
  • Minggu 5–6. Buka Scratch atau Code.org. Cukup satu proyek sederhana: animasi nama atau kartu ucapan, dengan satu percabangan dan satu perulangan.
  • Minggu 7–8. Masukkan Python dasar di luar jam pelajaran sebagai ekstrakurikuler atau klub. Jangan dipaksa masuk jam reguler sebelum gurunya nyaman.
  • Minggu 9–10. Kenalkan satu alat AI berbasis browser. Latih model sederhana dari gambar, lalu diskusikan bersama keempat aturan di atas.
  • Minggu 11–12. Minta murid mempresentasikan satu projek, sekecil apa pun. Hasil presentasi inilah bukti paling jujur bahwa mapel ini benar-benar berjalan, dan sekaligus bahan evaluasi untuk semester berikutnya.

Satu catatan penutup untuk kepala sekolah: jangan menunggu semua perangkat lengkap baru memulai. Pedoman KKA sendiri menegaskan pembelajaran tidak harus selalu memakai perangkat digital, dan sekolah yang memulai dari nol perangkat justru sering mendapat fondasi berpikir yang lebih kuat. Sebaliknya, sekolah yang memulai dengan alat lengkap tapi tanpa guru yang siap biasanya berhenti di tengah jalan.

Kalau tahun ini hanya satu kelas yang berjalan dengan baik, itu sudah cukup sebagai titik tolak. Perluasan ke kelas lain jauh lebih mudah setelah ada bukti nyata di dalam sekolah sendiri, bukan sekadar contoh dari sekolah lain.