Banyak guru keluar dari rapat dinas dengan satu pertanyaan yang sama: “Jadi kurikulumnya ganti lagi, ya?” Kabar soal koding masuk sekolah, mata pelajaran baru, dan istilah deep learning bikin ruang guru ramai, tapi tidak selalu jelas apa yang sebenarnya harus diubah di kelas Senin pagi.
Tenang, ini kabar baiknya: tidak ada pergantian kurikulum. Yang berubah adalah cara kita merancang pembelajaran. Artikel ini membahas apa yang diatur, apa yang tidak, dan langkah konkret yang bisa Bapak/Ibu kerjakan minggu ini — bahkan tanpa aplikasi baru.
Apa yang Sebenarnya Diatur
Dasar hukumnya adalah Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 13 Tahun 2025, yang mengubah Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024 tentang Kurikulum. Peraturan ini disahkan 15 Juli 2025 dan mulai berlaku pada tahun ajaran 2025/2026.
Poin-poin utamanya:
- Kurikulum tidak diganti. Sekolah tetap bebas memilih Kurikulum 2013 atau Kurikulum Merdeka sesuai kesiapan masing-masing satuan pendidikan.
- Pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) menjadi bagian resmi dari kerangka dasar kurikulum, bersama tujuan, prinsip, serta landasan filosofis, sosiologis, dan psikopedagogis.
- Koding dan Kecerdasan Artifisial (AI) masuk sebagai mata pelajaran pilihan, diterapkan bertahap mulai kelas 5 dan 6 SD serta kelas 7 SMP.
- Kegiatan kokurikuler disederhanakan dan alokasi waktunya dikurangi secara terukur pada beberapa kelas, tanpa mengurangi capaian pembelajaran.
- Ekstrakurikuler berbasis kepanduan (misalnya kepramukaan) wajib disediakan satuan pendidikan.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti menegaskan peraturan ini bukan menghadirkan kurikulum baru, melainkan menguatkan pengalaman belajar — bukan sekadar materi yang tertulis di buku (taught curriculum), tetapi juga pengalaman sosial dan kepemimpinan (hidden curriculum).
Pembelajaran Mendalam Itu Seperti Apa di Kelas?
Istilah deep learning sudah lama dipakai di dunia riset pendidikan. Intinya sederhana: siswa tidak berhenti di hafal, tetapi sampai pada memahami, memaknai, dan memakai.
Tiga prinsip yang paling praktis untuk diingat:
- Berkesadaran (mindful) — siswa tahu mengapa ia mempelajari sesuatu, bukan sekadar mengerjakan lembar kerja.
- Bermakna (meaningful) — materi dikaitkan dengan kehidupan nyata siswa.
- Menyenangkan (joyful) — bukan berarti selalu main games, tapi siswa merasa terlibat dan tidak tertekan.
Perhatikan bahwa ini tidak menuntut alat baru. Guru yang sudah memakai Kurikulum Merdeka dengan pembelajaran berbasis proyek sebenarnya sudah berada di jalur ini. Yang sering kurang adalah kesadaran menamai dan mengukur prosesnya.
Langkah Praktis: Merancang Satu Pertemuan Bernuansa Mendalam
Berikut alur yang bisa dipakai untuk hampir semua mata pelajaran, dari Fiqih sampai Matematika.
1. Mulai dengan pertanyaan pemandu, bukan daftar materi
Ganti tujuan “siswa dapat menyebutkan 5 jenis…” dengan pertanyaan yang bikin penasaran. Contoh untuk materi pecahan di kelas 4: “Kalau satu pizza dipotong untuk 3 orang, adilnya bagaimana?” Satu pertanyaan pemandu yang kuat akan menghemat 10 menit ceramah.
2. Gunakan pemahaman awal siswa sebagai titik tolak
Sebelum masuk materi, lakukan asesmen singkat — tanya lisan, kartu jawaban, atau sticky note. Guru perlu tahu “titik berangkat” siswa agar materi tidak terlalu mudah atau terlalu jauh melampaui.
3. Beri tugas yang butuh berpikir, bukan sekadar menyalin
Aktivitas yang mendorong pemahaman mendalam biasanya berbentuk: membandingkan dua pendapat, menemukan kesalahan pada contoh, membuat analogi, atau merancang sesuatu untuk memecahkan masalah kecil di lingkungan sekolah.
4. Sisipkan refleksi di akhir
Lima menit terakhir bukan untuk mengejar materi. Minta siswa menuliskan: apa yang saya pahami hari ini, dan di mana saya masih bingung? Refleksi ini menjadi umpan balik paling jujur untuk guru.
Koding dan AI: Siapa yang Harus Siap?
Tidak semua sekolah wajib langsung membuka mata pelajaran koding. Statusnya pilihan, dan penerapannya bertahap. Namun ada beberapa hal bijak yang bisa disiapkan sekarang:
- Jangan belanja perangkat dulu. Banyak aktivitas koding dan pengenalan AI bisa dimulai dengan komputer yang sudah ada atau bahkan tanpa komputer (unplugged), memakai kartu dan permainan logika.
- Manfaatkan yang gratis. Google Workspace for Education, Scratch, dan materi AI dasar dari berbagai platform terbuka bisa menutup kebutuhan awal.
- Fokus literasi AI sebelum alat AI. Siswa perlu tahu kapan AI bisa keliru, apa itu data pribadi, dan mengapa tidak semua jawaban AI benar. Ini lebih penting daripada menguasai satu aplikasi tertentu.
- Simpan bukti kegiatan. Foto atau catatan singkat saat kelas koding berlangsung akan sangat membantu saat supervisi atau akreditasi.
Untuk madrasah yang lebih dulu ingin menguatkan dasar, mengintegrasikan logika koding ke mata pelajaran yang sudah ada (pola, urutan langkah, algoritma sederhana dalam matematika) adalah cara paling hemat.
Kokurikuler yang Lebih Ringan, Bukan Berarti Kosong
Peraturan baru ini menyederhanakan beban kokurikuler. Ini kesempatan untuk berhenti membuat laporan tebal yang jarang dibaca, dan mulai membangun satu program yang benar-benar berjalan.
Contoh konkret: alih-alih lima proyek kecil berbeda, buat satu proyek tematik lintas mata pelajaran per semester. Misalnya proyek “Kantin Sehat” yang menggabungkan matematika (hitung modal), bahasa Indonesia (buat poster promosi), dan IPA (kandungan gizi). Siswa-siswi belajar di situ, dan guru hanya perlu menyiapkan satu set dokumen serta satu asesmen.
Perlu diingat, kegiatan kokurikuler dapat dilaksanakan dalam bentuk pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu, gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, atau bentuk lain yang sesuai. Pada pendidikan kesetaraan, setidaknya melalui pemberdayaan dan keterampilan.
Penilaian: Bagaimana Membuktikan Pembelajaran Mendalam?
Inilah bagian yang paling sering ditanya di pelatihan. Pembelajaran mendalam tidak mengubah format rapor, tetapi mengubah bukti yang dikumpulkan guru. Beberapa pendekatan yang realistis:
- Portofolio singkat. Cukup tiga karya terbaik per siswa per semester, bukan semua lembar kerja.
- Catatan anekdotal. Satu-dua kalimat per anak tentang momen saat ia berpikir keras mengerjakan tugas. Ini bukti autentik yang sulit dipalsukan.
- Rubrik sederhana. Gunakan tiga tingkat: mulai berkembang, berkembang, dan mahir. Hindari rubrik sepuluh kolom yang tidak akan pernah terisi.
Alat digital bisa membantu, tapi bukan keharusan. Google Forms ringan untuk asesmen awal, dan Google Sheets untuk rekap nilai sudah cukup untuk sebagian besar kelas.
Hal yang Sering Disalahpahami
Pertama, menganggap pembelajaran mendalam berarti guru harus berceramah lebih lama. Justru sebaliknya — porsi ceramah menyusut, porsi siswa berpikir bertambah.
Kedua, mengira semua materi harus dikaitkan dengan teknologi. Padahal kunjungan lapangan, wawancara narasumber, dan diskusi terbuka juga termasuk pembelajaran bermakna.
Ketiga, menunggu instruksi turun lebih dulu. Padahal peraturan ini sudah memberi ruang keleluasaan. Sekolah yang menunggu biasanya ketinggalan saat supervisi.
Penutup
Perubahan ini sebetulnya menuntut sedikit hal baru dan banyak hal lama yang dikerjakan lebih sadar. Ambil satu pertemuan pekan ini, ganti tujuan materi dengan satu pertanyaan pemandu, sisipkan refleksi di akhir, dan simpan satu karya siswa sebagai bukti. Kalau itu sudah berjalan, Bapak/Ibu sudah berada di jalur yang benar — tanpa perlu menunggu aplikasi baru atau perangkat mahal.
Simpan salinan Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 di folder sekolah. Saat ada pertanyaan dari pengawas atau orang tua tentang “kurikulum baru”, jawabannya jelas: kurikulumnya sama, cara belajarnya yang makin dalam.