Pembina PMR di banyak sekolah menerima tugas ini sebagai tambahan, tanpa dokumen acuan dan tanpa tahu bahwa latihannya punya kurikulum resmi dengan jumlah jam yang sudah dihitung. Akibatnya latihan rutin berjalan seadanya: pertolongan pertama diajarkan sekali di awal tahun, lalu kegiatan menumpuk pada lomba dan upacara. Padahal PMR bukan kegiatan seremonial. Ia punya pedoman manajemen yang menetapkan tujuh materi pokok, tiga tingkatan anggota, dan tiga butir bakti yang harus dijalankan sebagai bukti kegiatan — bukan sekadar daftar hadir.
Artikel ini merangkum hal-hal yang paling sering ditanya pembina dan kepala sekolah: struktur resminya, jumlah jam latihan per jenjang, dan yang paling praktis — rukun apa saja yang boleh dibebankan ke anggaran sekolah.
PMR Itu Bagian dari PMI, Bukan Sekadar Klub Sekolah
Palang Merah Remaja (PMR) adalah wadah pembinaan anggota remaja Palang Merah Indonesia (PMI) di sekolah. Anggota PMR adalah anggota PMI berusia 10 sampai 17 tahun (atau seusia siswa sekolah lanjutan tingkat atas) dan belum menikah. Setiap kelompok PMR terdiri dari minimal 10 orang — angka ini penting, karena sekolah yang hanya punya 4–5 peminat sebaiknya menggabungkan diri dengan sekolah terdekat alih-alih memaksakan kelompok kecil yang tidak pernah bisa mengikuti lomba regu.
Dasar pembinaannya bukan hanya aturan internal PMI. Ada dua perjanjian kerja sama lama yang sampai sekarang masih jadi rujukan resmi, dan pembina sebaiknya menyebutnya saat mengajukan program ke kepala sekolah:
- Kerja sama PMI dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 24 Mei 1995, Nomor 118/U/1995 dan Nomor 0090/KEP/PP/95, tentang pembinaan dan pengembangan kepalangmerahan di sekolah.
- Kerja sama PMI dengan Departemen Agama, 26 September 1995, Nomor 459 Tahun 1995 dan Nomor 0185-KEP/PP/IX/95, tentang pembinaan dan pengembangan kepalangmerahan di madrasah.
Poin yang sering ditanyakan guru madrasah: PMR bukan hanya untuk sekolah umum. Payung hukumnya membedakan keduanya secara eksplisit, dan pembinaan di madrasah punya salurannya sendiri.
Tiga Tingkatan: Mula, Madya, Wira — dan Peran yang Berbeda
Penjenjangan PMR mengikuti usia dan peran, bukan sekadar jenjang sekolah. Ini yang membuat satu kelompok PMR Mula tidak bisa dilatih dengan cara yang sama seperti PMR Wira.
| Tingkatan | Usia | Setingkat | Peran resmi |
|---|---|---|---|
| PMR Mula | 10–12 tahun | SD/MI/sederajat | peer leadership — contoh keterampilan hidup sehat bagi teman sebaya |
| PMR Madya | 12–15 tahun | SMP/MTs/sederajat | peer support — memberi dukungan dan semangat kepada teman sebaya |
| PMR Wira | 15–17 tahun | SMA/SMK/MA/sederajat | peer educator — pendidik sebaya keterampilan hidup sehat |
Tiga istilah di kolom terakhir itu bukan hiasan. Ketika pembina mengisi laporan program, kegiatan yang tidak mengarah ke peran tersebut dianggap belum melaksanakan pembinaan berbasis pengembangan karakter kepalangmerahan, yang menurut pedoman dijalankan dengan pendekatan Keterampilan Hidup — proses interaktif untuk memaksimalkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap (PKS) anggota, sehingga anggota tidak berperan sebagai objek melainkan sebagai subjek pembinaan.
Tujuh Materi Pokok dan Jumlah Jam Latihannya
Ini bagian yang paling jarang dibawa pembina ke rapat, padahal paling kuat untuk mengajukan anggaran. Pedoman PMR menetapkan tujuh materi pokok dengan kurikulum dari PMI Pusat dan hitungan jam per tingkatan:
Tujuh materi pokok PMR:
- Kepalangmerahan
- Kepemimpinan (kepemimpinan kepalangmerahan)
- Pertolongan Pertama
- Sanitasi dan Kesehatan / Perawatan Keluarga
- Remaja Sehat Peduli Sesama / Pendidikan Remaja Sebaya
- Ayo Siaga Bencana (kesiapsiagaan bencana)
- Donor Darah — pada kurikulum resmi tertulis UKTD: Doras
Jumlah jam latihan per tingkatan menurut acuan kurikulum PMI Pusat:
| Materi | Mula | Madya | Wira |
|---|---|---|---|
| Kepalangmerahan | 9 | 14 | 15 |
| Pertolongan Pertama | 10 | 15 | 22 |
| Perawatan Keluarga | 12 | 16 | 18 |
| Kesehatan Remaja | 8 | 8 | 8 |
| Kesiapsiagaan Bencana | 7 | 10 | 15 |
| Kepemimpinan Kepalangmerahan | 12 | 19 | 35 |
| UKTD: Doras | 0 | 0 | 4 |
| Total | 58 | 82 | 117 |
Tiga hal yang perlu diperhatikan dari tabel itu.
Pertama, latihan rutin dijadwalkan minimal sekali seminggu. Kalau satu sesi latihan berdurasi 90 menit, kelompok PMR Wira butuh sekitar 78 sesi untuk menuntaskan 117 jam — artinya hampir dua tahun pelajaran bila hanya mengandalkan pertemuan mingguan tanpa blok latihan. Karena itu sekolah lazim menggabungkan latihan rutin mingguan dengan Latihan Dasar (Latdas) dan pelatihan blok dari PMI Cabang.
Kedua, materi Donor Darah sengaja tidak diberikan di Mula dan Madya. Anggota PMR baru boleh berperan pada UKTD (Unit Transfusi Darah) di jenjang Wira, dengan porsi 4 jam — dan perannya lebih banyak membantu sosialisasi serta motivasi donor darah siswa, bukan menjadi pendonor.
Ketiga, porsi Kepemimpinan Kepalangmerahan di Wira (35 jam) jauh lebih besar daripada Mula (12 jam). Ini konsekuensi dari peran peer educator: anggota Wira diharapkan mampu menjadi Pelatih Remaja Sebaya, sehingga jam kepemimpinan dan teknik melatih memang harus lebih banyak.
Tri Bakti PMR: Tiga Butir yang Jadi Bukti Kegiatan
Setiap anggota PMR wajib melaksanakan Tri Bakti PMR. Inilah tiga butirnya:
- Berbakti pada masyarakat.
- Mempertinggi keterampilan serta memelihara kebersihan dan kesehatan.
- Mempererat persahabatan nasional dan internasional.
Yang menentukan penilaian bukan hafalan tiga kalimatnya, melainkan apakah ada kegiatan nyata di baliknya. Pada PMR Mula, butir pertama diterjemahkan ke hal-hal kecil yang bisa diperiksa: tahu alamat dan nomor kontak puskesmas, rumah sakit, bidan, dan dokter di lingkungannya; menengok teman yang sakit; ikut gotong royong membersihkan tempat ibadah, sekolah, atau puskesmas. Pada PMR Madya ditambah hal-hal yang lebih terstruktur, misalnya kunjungan sosial ke rumah sakit dan panti asuhan. Pada PMR Wira, kegiatan bakti mencakup membantu tugas-tugas sosialisasi donor darah dan ikut kegiatan posyandu di wilayahnya.
Butir ketiga — persahabatan nasional dan internasional — sering diabaikan karena dianggap tidak bisa diukur. Yang lazim dipakai sebagai buktinya: saling berkunjung untuk latihan bersama dengan PMR dari sekolah atau cabang lain, saling berkirim surat atau album persahabatan, dan bertukar hasil kerajinan daerah.
Perekrutan: Bulan Agustus, dan Sekali Setahun
Perekrutan anggota adalah peningkatan jumlah anggota dan kelompok PMR, dilakukan lewat promosi, pendaftaran, dan wawancara. Pedoman menetapkan waktu pelaksanaannya: minimal sekali setahun pada bulan Juli–Agustus, bertepatan dengan Bulan Perekrutan Nasional sekaligus memperingati Hari Remaja Internasional dan Hari PMR pada 12 Agustus.
Keanggotaan bersifat terbuka bagi remaja, pria maupun wanita, termasuk yang memiliki keterbatasan fisik. Syarat resminya: warga negara Indonesia (atau warga negara asing yang berdomisili di Indonesia), berusia 10–17 tahun dan belum menikah, mendapat persetujuan orang tua/wali, bersedia mengikuti orientasi dan pelatihan, serta mengisi formulir pendaftaran yang dikembalikan ke pembina untuk diteruskan ke PMI Cabang.
Sebelum dilantik, calon anggota wajib mengikuti Orientasi Kepalangmerahan yang dilaksanakan oleh PMI Cabang. Materi orientasinya mencakup organisasi PMI, hak dan kewajiban anggota, prinsip dasar gerakan, Tri Bakti PMR, serta sosialisasi aplikasi SIAMO dan pendaftaran keanggotaan. Orientasi ini bukan formalitas: ia syarat resmi sebelum pelantikan.
Peran Pembina dan Penanggung Jawab: Siapa di Kertas Kerja
Pembagian tugas ini sering keliru di lapangan — misalnya kepala sekolah dianggap tidak perlu tahu karena “sudah ada guru pembinanya”.
- Penanggung jawab kelompok PMR sekolah adalah Kepala Sekolah. Ia yang mengatur, memonitor, dan mengevaluasi tugas pembina PMR dan pelatih PMI di kelompok tersebut.
- Pembina PMR adalah wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, atau guru yang ditunjuk oleh sekolah, untuk membina kelompok dan anggota PMR. Untuk kelompok PMR luar sekolah, pembinanya ditunjuk oleh PMI Cabang/Ranting.
- Pelatih PMI adalah individu (pengurus/staf/relawan) yang memenuhi kualifikasi pelatih sesuai pedoman pelatih PMI. Sekolah tidak boleh mengklaim telah melakukan pelatihan resmi tanpa melibatkan pelatih berkualifikasi dari PMI.
- Instansi terkait — termasuk pemerintah, komite sekolah, UNICEF, dan lembaga non-pemerintah — ikut berperan dalam pembinaan dan pengembangan PMR.
Kewajiban pembina juga tertulis jelas: mengikuti orientasi kepalangmerahan dan pelatihan minimal di tingkat PMI Cabang. Guru yang ditunjuk sebagai pembina PMR sebaiknya mencatat pelatihan ini sebagai bagian dari pengembangan profesinya, karena menjadi salah satu bukti sah kegiatan kepalangmerahan di sekolah.
Membiayai PMR dari Dana BOS: Apa yang Boleh dan Apa yang Tidak
Bagian ini yang membuat program PMR berjalan atau mandek. Tanpa kepastian anggaran, kegiatan akhirnya bergantung pada sumbangan orang tua — dan itu persis yang tidak boleh dilakukan sekolah negeri.
Pegangannya adalah Permendikdasmen Nomor 8 Tahun 2026 tentang Petunjuk Teknis Pengelolaan Dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (Dana BOSP), yang tetap berlaku. Dua komponen yang paling sering dipakai untuk PMR:
1. Pelaksanaan kegiatan pembelajaran dan ekstrakurikuler. Pasal 42 ayat (1) huruf c mencantumkan komponen penggunaan Dana BOS Reguler untuk pembiayaan pelaksanaan kegiatan pembelajaran dan ekstrakurikuler yang mendukung pengembangan potensi peserta didik. PMR adalah ekstrakurikuler resmi, sehingga pembinaan dan pelaksanaannya masuk komponen ini: pengadaan perlengkapan latihan, biaya pelatihan blok bersama PMI Cabang, konsumsi latihan, dan transportasi petugas PMI ke sekolah.
2. Penyelenggaraan kegiatan kesehatan, gizi, dan kebersihan. Pasal 38 ayat (1) huruf i memuat komponen ini, dengan lampiran yang mencakup obat-obatan dan peralatan kesehatan, alat deteksi dini tumbuh kembang, sabun/disinfektan/masker, dan makanan tambahan. Inilah dasar paling kuat untuk mengisi dan memperbarui kotak P3K serta perbekalan latihan pertolongan pertama — dan sekaligus alasan mengapa PMR dan UKS sebaiknya dianggarkan bersama, bukan berjalan sendiri-sendiri.
Yang perlu diingat soal batas persentase Dana BOS Reguler tahun anggaran 2026 — semuanya dihitung dari total pagu satu tahun, bukan dari sisa dana:
| Komponen | Batas |
|---|---|
| Pengembangan perpustakaan / buku | minimum 10% (PAUD 5%) |
| Pembayaran honor (guru non-ASN) | negeri maksimum 20%; swasta maksimum 40% — per Pasal 58 ayat (2) minimal 50% dari alokasi dimaksud |
| Pemeliharaan sarana dan prasarana | maksimum 20% |
Untuk PMR, pos yang biasanya dipakai adalah ekstrakurikuler (huruf c) dan kegiatan kesehatan (huruf i) — keduanya tidak dibatasi persentase khusus, sehingga tidak bersaing langsung dengan belanja buku maupun honor. Justru karena itu, dua pos ini sering menjadi tempat pertama yang dipotong saat pagu sekolah sempit. Menyebutnya secara eksplisit di RKAS sejak awal tahun adalah cara paling murah untuk menjaga program PMR tetap punya anggaran sampai semester dua.
Kegiatan Berjenjang: Jumbara, SIKOM, dan PRAYA
Selain latihan rutin, PMR mengenal kegiatan berjenjang yang diselenggarakan PMI di tingkat cabang hingga pusat. Tiga nama yang paling sering muncul:
- Jumbara (Jumpa Bakti Gembira) — pertemuan dan perkemahan anggota PMR. Pelaksanaannya berjenjang; Jumbara Kabupaten Bintan tahun 2026, misalnya, diikuti 190 anggota PMR Madya dan Wira dari berbagai sekolah, dengan tiga prinsip yang menjadi namanya: Jumpa, Bakti, dan Gembira.
- SIKOM (Silaturahmi dan Kompetisi) — ajang kompetisi tingkat cabang. PMI Kabupaten Nganjuk tahun 2026 menggelarnya selama dua hari dan diikuti sekitar 1.500 anggota PMR dari berbagai jenjang, dengan lomba seperti Simulasi Pertolongan Pertama, Pertolongan Pertama Lapangan, Youth Station, dan Got Talent.
- PRAYA (Program Pendidikan Remaja Sebaya) — pembinaan yang menyatukan PMR Wira dengan calon relawan Korps Sukarela (KSR), menjadikannya jembatan dari anggota sekolah menuju relawan muda PMI.
Bagi sekolah, kegiatan ini punya nilai lebih dari sekadar prestasi: ia menjadi bukti Tri Bakti pada butir ketiga (persahabatan nasional), dan biasanya menjadi satu-satunya bagian program PMR yang bisa menunjukkan hasil secara terukur kepada kepala dinas.
Empat Hal yang Layak Dikerjakan Semester Ini
Kalau program PMR di sekolah belum punya dokumen acuan, urutan yang paling murah dampaknya adalah:
- Tentukan tingkatan yang akan dibina dan hitung ulang anggotanya. Kelompok kurang dari 10 orang sebaiknya digabung.
- Susun jadwal latihan terhadap 58/82/117 jam sesuai tingkatan, dan tandai sesi mana yang akan diisi pelatih PMI Cabang.
- Ajukan pos anggaran di RKAS ke komponen ekstrakurikuler dan kegiatan kesehatan, dengan menyebut dasar pasalnya.
- Pastikan pembina mengikuti orientasi dan pelatihan minimal tingkat cabang — ini kewajiban tertulis, dan sekaligus syarat agar pelatihan yang dilakukan sekolah diakui.
Program PMR yang tertata rapi biasanya berbuah pada dua hal yang tidak langsung terlihat: sekolah punya kader pertolongan pertama yang benar-benar terlatih saat terjadi keadaan darurat, dan UKS berhenti menjadi ruangan yang hanya menyimpan dipan kosong.
Baca juga:
- UKS Sekolah 2026: Trias UKS, empat strata, dan pos Dana BOS
- Ekstrakurikuler Sekolah 2026: kategori resmi dan panduan pembinaan Baca juga: Sekolah Adiwiyata 2026 — kriteria dan bobot penilaiannya, ambang nilai 70/80/90 persen, serta pos anggaran yang boleh dipakai.
Baca juga: Kader Kesehatan Remaja 2026 — cara membentuk KKR, materi pelatihan, alur kerja dengan puskesmas, dan pos Dana BOS-nya.