Jam 08.10, bel pertama berbunyi. Satu kelas masuk ke laboratorium komputer untuk latihan soal berbasis komputer. Guru menyalakan 20 PC klien, membuka browser, lalu menunggu. Halaman tidak terbuka. Setelah dicek, kabel internet dari ISP ternyata tidak membawa sinyal — biasanya karena gangguan di jalan, dan baru balik sore. Selama enam jam ke depan, laboratorium komputer yang menelan puluhan juta rupiah itu hanya bisa dipakai untuk mengetik di Word.
Kejadian ini rutin di banyak sekolah, terutama di luar kota besar. Bukan karena perangkatnya kurang, tetapi karena semua materi, video, dan bank soal disimpan di internet; begitu jalur putus, tidak ada yang bisa diakses.
Jalan keluarnya sederhana dan tidak mahal: menyimpan materi di dalam sekolah. Tulisan ini membahas angka kebutuhan perangkatnya dan cara menguji apakah hasilnya sudah benar — bukan daftar merek.
Dulu bedakan tiga hal yang sering tertukar
Banyak kepala sekolah menyebut ketiganya “server”, padahal hanya satu yang perlu dibeli.
Pertama, server aplikasi ujian. Perangkat lunak yang dipasang petugas pusat atau dinas pada hari asesmen. Sekolah tidak membelinya sendiri; kalau diubah, hasil ujian bisa tidak terbaca pusat.
Kedua, NAS (network attached storage). Ini perangkat penyimpanan yang tersambung ke jaringan lokal. Fungsinya seperti lemari arsip digital: semua PC, laptop, dan HP guru bisa membuka berkas dari situ tanpa internet. Inilah yang dibahas di artikel ini.
Ketiga, satu PC bekas yang folder-nya dibagi ke jaringan. Cara termurah dan sudah banyak dipakai — tetapi jarang dirawat, mati diam-diam, baru ketahuan saat dibutuhkan.
Yang sering terjadi: sekolah membeli perangkat server aplikasi yang seharusnya diurus pusat, lalu tidak punya tempat penyimpanan materi yang stabil. Uang habis di tempat yang salah.
Hitung dulu: berapa byte yang benar-benar perlu disimpan
Sebelum memilih perangkat, hitung besar materinya. Ini hitungan untuk sekolah dengan 24 PC klien dan 6 kelas paralel:
| Jenis materi | Ukuran per berkas | Jumlah | Total |
|---|---|---|---|
| Video pembelajaran (MP4, 720p, 10 menit) | ± 120 MB | 300 berkas | 35,2 GB |
| Modul ajar & LKPD (PDF) | ± 2 MB | 1.200 berkas | 2,3 GB |
| Bank soal & gambar pendukung | ± 1 MB | 5.000 butir | 4,9 GB |
| Foto kegiatan, administrasi, arsip scan | ± 3 MB | 2.000 berkas | 5,9 GB |
| Berkas kerja siswa (folder per siswa) | ± 60 MB per siswa | 480 siswa | 28,1 GB |
| Cadangan tiap malam (versi terbaru) | 15% dari total | — | ± 11,5 GB |
Jumlahnya ± 76 GB (35,2 + 2,3 + 4,9 + 5,9 + 28,1 + 11,5 = 87,9 GB, dibulatkan ke atas menjadi sekitar 90 GB dengan berkas tak terduga). Angka ini lebih kecil dari perkiraan kebanyakan orang, karena yang besar biasanya video — dan video bisa dikompresi: rekaman 20 menit yang belum diolah bisa 400 MB, setelah diubah ke 720p dengan bitrate wajar turun ke sekitar 120 MB tanpa beda yang terlihat di proyektor kelas.
Kalikan dengan aturan cadangan: simpan dua salinan (satu di NAS, satu di hard disk eksternal yang disimpan di ruang berbeda), dan sisakan ruang kosong minimal 30% supaya sistem tidak lambat. Untuk kasus di atas: 88 GB × 2 = 176 GB, ditambah ruang kosong 30% (176 × 1,3) menjadi ± 229 GB. Artinya satu disk 512 GB sudah cukup lega, dan disk 1 TB memberi ruang tumbuh untuk 4–5 tahun ke depan.
Perbandingan pilihan penyimpanan
| Pilihan | Perkiraan biaya 2026 | Cocok untuk | Kekurangan nyata |
|---|---|---|---|
| PC bekas dijadikan folder bersama | Rp 0 (pakai yang ada) | Sekolah kecil, materi < 50 GB | Tidak ada cadangan otomatis; mati kalau PC dipakai orang lain; tidak ada proteksi galat disk |
| NAS 2 slot + 2 HDD 2 TB (RAID 1) | Rp 3,5–5,5 juta | Sekolah 300–800 siswa, kebutuhan < 200 GB | Membaca berkas besar lebih lambat dari SSD; berisik dan panas, sebaiknya bukan di ruang guru |
| NAS 2 slot + 2 SSD 1 TB | Rp 6–9 juta | Lab dengan 20+ klien yang membuka video bersamaan | Harga per GB paling mahal; kapasitas cepat penuh |
| Mini PC / SFF bekas + 1 SSD 1 TB, Linux + Samba | Rp 1,5–3 juta | Sekolah dengan guru yang mau belajar sedikit | Tidak ada disk cadangan otomatis; perlu satu orang yang paham dasar |
| Penyimpanan awan berbayar | Rp 150–400 ribu/bulan | Materi yang perlu diakses luar sekolah | Tetap butuh internet — justru yang sedang bermasalah |
Angka di atas adalah perkiraan pasar yang perlu dicek ulang ke toko sebelum masuk RKAS; harga perangkat penyimpanan bergerak cukup cepat dan berbeda antar kota.
Kesimpulannya: untuk sekolah di bawah 500 siswa, pilihan paling masuk akal biasanya bukan NAS mahal, melainkan satu SSD di mini PC bekas dengan dua salinan cadangan. NAS baru layak kalau klien serentak di atas 20 atau materi lewat 200 GB.
Kapan justru JANGAN beli NAS
- Kalau belum ada kabel jaringan ke lab. NAS yang tersambung lewat WiFi akan terasa sangat lambat saat 20 siswa membuka video bersamaan. Perbaiki kabel dulu; biaya kabel Cat6 per tarikan jauh lebih murah daripada NAS yang akhirnya tidak dipakai.
- Kalau belum ada satu orang yang bertanggung jawab. Perangkat tanpa pemilik selalu berakhir sama: password default tidak diganti, disk penuh, cadangan tidak pernah jalan. Tunjuk satu guru atau operator, tulis namanya di berita acara.
- Kalau yang dicari hanya “biar ada server”. Tanpa daftar materi yang jelas, perangkat ini akan jadi barang inventaris yang menyala tetapi tidak dibuka siapa pun.
- Kalau daya listrik lab belum stabil. Stabilkan listrik dulu; mati mendadak saat menulis bisa merusak sistem berkas.
Urutan pengerjaan yang aman
- Buat daftar materi di spreadsheet: nama berkas, ukuran, mapel, kelas. Ini sekaligus bukti kerja dan dasar hitungan kapasitas.
- Pilih satu komputer sebagai tempat penyimpanan dan beri nama tetap, misalnya
lab-server. Alamat IP-nya diatur tetap (statis) di jaringan lokal, misalnya 192.168.1.20, supaya alamatnya tidak berubah tiap kali perangkat dinyalakan ulang. - Buat folder per mata pelajaran, bukan per guru. Folder per guru akan berantakan begitu gurunya pindah tugas. Contoh:
materi/matematika/kelas-8/. - Beri hak akses bertingkat: akun guru (boleh menulis), akun siswa (hanya membaca), akun admin. Akun siswa yang bisa menghapus adalah kesalahan paling mahal.
- Uji dari klien sebelum diumumkan. Buka berkas terbesar dari PC paling jauh di lab, bukan dari PC yang menempel ke server.
- Pasang jadwal cadangan otomatis ke hard disk eksternal setiap malam, lalu simpan disk itu di ruang berbeda (bukan di lemari yang sama dengan servernya). Cadangan yang satu ruangan dengan aslinya bukan cadangan.
- Tulis satu halaman prosedur: alamat IP, nama akun, jadwal cadangan, siapa yang dihubungi kalau mati.
Cara memeriksa hasilnya sudah benar
Pekerjaan ini baru dianggap selesai kalau tiga uji ini lulus. Semuanya bisa dilakukan tanpa internet sama sekali:
Uji 1 — cabut kabel internet. Lepaskan kabel dari ISP, lalu buka materi dari tiga PC klien berbeda. Kalau semua terbuka, penyimpanan lokal sudah bekerja. Kalau gagal, masalahnya di jaringan lokal, bukan penyimpanan.
Uji 2 — uji beban bersamaan. Minta 20 siswa membuka video yang sama pada saat yang sama. Catat berapa detik sampai video mulai berjalan. Di kabel yang sehat, video 720p mulai dalam 2–5 detik. Lewat 20 detik, penyebab tersering WiFi, kabel Cat5 lama, atau switch 100 Mbps.
Uji 3 — uji pemulihan cadangan. Hapus satu berkas contoh di server, lalu pulihkan dari cadangan. Tanpa uji ini, sekolah hanya mengira punya cadangan — uji yang paling sering dilewatkan dan paling sering menyelamatkan.
Kesalahan yang sering terjadi di lapangan
- Membeli NAS 4 slot mahal, tetapi switch-nya masih 100 Mbps. Switch lama membatasi kecepatan seluruh jaringan ke sekitar 11 MB per detik. NAS seharga jutaan jadi tidak ada gunanya. Ganti switch ke gigabit (1.000 Mbps) dulu — biayanya jauh lebih kecil.
- Semua orang memakai satu akun admin. Tidak ada catatan siapa menghapus apa. Begitu ada berkas soal hilang, tidak ada yang bisa dilacak.
- Menaruh perangkat di ruang guru yang berdebu dan tanpa ventilasi. Disk yang kepanasan berumur jauh lebih pendek. Letakkan di tempat beraliran udara, jauh dari jendela berdebu dan dari lantai yang sering dipel.
- Menganggap RAID sama dengan cadangan. RAID hanya melindungi dari satu disk rusak, bukan dari berkas terhapus atau ransomware. Cadangan di disk terpisah tetap wajib.
- Tidak mengganti password bawaan. Ganti sebelum perangkat dipakai, bukan sesudahnya.
Perkiraan biaya tambahan yang sering terlupa
| Komponen | Perkiraan 2026 | Catatan |
|---|---|---|
| Switch gigabit 8–16 port | Rp 350–900 ribu | Wajib kalau masih 100 Mbps |
| Kabel Cat6 + tarikan | Rp 15–25 ribu/meter (terpasang) | Perhitungkan jalur antarruang |
| UPS 600–800 VA untuk perangkat penyimpanan | Rp 700 ribu–1,2 juta | Menahan beberapa menit saat listrik berkedip |
| Hard disk eksternal 1 TB untuk cadangan | Rp 700 ribu–1 juta | Dua unit, disimpan di dua tempat |
| Hard disk pengganti (cadangan stok) | Rp 700 ribu–1,2 juta | Disk penyimpanan punya umur pakai terbatas |
Kalau memakai Dana BOS, kelompokkan ke komponen pemeliharaan/penyediaan sarana prasarana sesuai juknis tahun berjalan; jangan campur pembelian perangkat dengan belanja ATK di satu kode rekening.
Pertanyaan yang sering muncul
Kalau listrik mati, apakah NAS akan rusak? Tidak otomatis, tetapi mati mendadak saat perangkat sedang menulis bisa merusak sistem berkas. Karena itu UPS dipasang bukan untuk melanjutkan pelajaran, melainkan untuk memberi waktu perangkat mati dengan rapi.
Apakah sekolah tetap bisa menjalankan ujian berbasis komputer tanpa internet? Untuk pelaksanaan resmi, ketentuan teknisnya diatur penyelenggara pusat dan tidak bisa diganti sekolah. Yang bisa sekolah siapkan adalah materi latihan, bank soal mandiri, dan bahan ajar yang bisa dibuka tanpa internet — sehingga lab tetap terpakai pada hari biasa dan pada hari koneksi bermasalah.
Berapa kapasitas yang perlu kalau sekolah punya 1.000 siswa? Kalikan porsi berkas kerja siswa: 1.000 × 60 MB = 60 GB, plus materi dan arsip sekitar 40 GB, maka ± 100 GB; dengan dua salinan dan ruang kosong 30% (100 × 2 × 1,3) menjadi ± 260 GB. Satu disk 1 TB masih cukup, tetapi sebaiknya dua disk dengan RAID 1 karena jumlah pemakainya sudah besar.
Kalau tidak ada guru yang paham IT, apa yang bisa dilakukan? Mulai dari yang paling sederhana: satu PC dengan folder bersama dan satu hard disk eksternal untuk cadangan mingguan, dengan satu halaman prosedur tertulis. Perangkat canggih tanpa orang yang merawat selalu lebih rapuh daripada perangkat sederhana yang rutin diperiksa.
Penutup
Masalah lab komputer saat internet putus bukan masalah perangkat baru, tetapi masalah tempat penyimpanan yang belum diputuskan. Hitungan di atas menunjukkan kebutuhan nyata sekolah biasanya di bawah 100 GB — jauh lebih kecil dari yang dibayangkan — sehingga solusinya bisa dimulai dari satu SSD dan satu hard disk cadangan. Yang menentukan hasil bukan harganya, tetapi tiga hal: daftar materi yang jelas, satu orang yang bertanggung jawab, dan uji pemulihan yang benar-benar dicoba.
Kalau berkas administrasinya yang perlu dirapikan lebih dulu — daftar inventaris, jadwal pemeliharaan, dan rekap belanja — mulai dari template administrasi madrasah versi ringkas yang bisa diunduh gratis, lalu sesuaikan isinya dengan kondisi lab sekolah sendiri.
Seluruh harga, kapasitas, dan angka waktu dalam artikel ini adalah perkiraan untuk gambaran kerja per Oktober 2026; harga pasar, ketentuan juknis BOS/Kemenag, serta ketentuan teknis penyelenggaraan asesmen dapat berubah sehingga perlu dicek ulang ke penyedia dan dokumen resmi terbaru sebelum dipakai dalam dokumen anggaran.