Setiap tahun, sekitar bulan September sampai November, ruang tata usaha sekolah dan madrasah mulai ramai dengan pertanyaan yang sama: “Sisa pagu kita masih ada, mau dibelikan apa?” Di sinilah perdebatan muncul. Guru IT minta tambahan laptop, operator minta scanner baru, bagian perpustakaan minta tambahan buku, sementara kepala sekolah harus memastikan semuanya masih masuk koridor aturan.
Masalahnya bukan soal uangnya ada atau tidak, tetapi soal kepatuhan. Belanja yang salah komponen bisa berujung pada temuan pemeriksaan, pengembalian dana, sampai koreksi anggaran di akhir tahun. Artikel ini membahas cara menata belanja perangkat TIK sekolah dengan dana BOS 2026 secara aman dan tetap bermanfaat.
Aturan Baru yang Berubah di 2026
Dasar hukum pengelolaan dana tahun ini adalah Permendikdasmen Nomor 8 Tahun 2026 tentang Petunjuk Teknis Pengelolaan Dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan. Ada beberapa ketentuan yang perlu dicatat karena berbeda dari tahun sebelumnya:
- Komponen honor jenjang dasar dan menengah dibatasi maksimal 20% untuk sekolah negeri dan 40% untuk sekolah swasta, dihitung dari 100% total pagu anggaran 2026. Khusus PAUD dan kesetaraan, batasnya maksimal 40% baik negeri maupun swasta.
- Komponen sarana dan prasarana dibatasi tidak lebih dari 20% dari total pagu anggaran. Ketentuannya berlaku untuk semua satuan pendidikan.
- Komponen buku wajib dianggarkan minimal 10% dari total pagu untuk jenjang dasar dan menengah, dan minimal 5% untuk PAUD.
- Istilah “Penerimaan Peserta Didik Baru” berubah menjadi Penerimaan Murid Baru.
Bagi operator yang biasa bekerja di ARKAS, penerapan juknis ini menunggu pembaruan aplikasi ke versi MARKAS 2.2.15 dan ARKAS 4.2.18. Jadi kalau tampilan menu masih terasa berbeda dari panduan resmi, langkah pertamanya bukan menebak, melainkan memperbarui aplikasinya lebih dulu.
Kode Rekening untuk Belanja Perangkat TIK
Ini bagian yang paling sering salah tempat. Banyak sekolah masih menganggap “laptop” dan “proyektor” masuk ke komponen sarana prasarana secara otomatis. Padahal, kode kegiatannya yang menentukan.
Komponen sarana dan prasarana mencakup sub program antara lain:
- 05.08.01 — Pemeliharaan Prasarana Lahan, Bangunan dan Ruang
- 05.08.03 — Pemeliharaan Peralatan Sekolah
- 05.08.05 — Pemeliharaan Perlengkapan Sekolah
- 05.08.06 — Penyediaan prasarana akses bagi peserta didik penyandang disabilitas
- 05.08.08 — Pengadaan sarana perlengkapan untuk mendukung peserta didik disabilitas
- 05.08.09 — Pengadaan perlengkapan daya dan jasa sekolah (instalasi air, listrik, telepon, internet, termasuk genset dan panel surya)
- 05.08.10 — Pemeliharaan perlengkapan daya dan jasa sekolah
- 05.08.12 — Tindakan tanggap darurat dampak bencana
Perhatikan kata kuncinya. Komponen sarana dibuka untuk pemeliharaan dan perbaikan komputer, printer, laptop, proyektor, dan pendingin ruangan. Artinya, anggaran untuk memperbaiki laptop yang rusak, mengganti keyboard yang tidak berfungsi, atau servis proyektor yang lampunya redup masuk ke ranah ini. Sebaliknya, pengadaan unit baru punya koridor yang lebih sempit dan tidak selalu bisa ditumpangkan pada komponen sarana tanpa dasar kebutuhan yang kuat.
Karena itu, kalau sekolah ingin menambah perangkat, alur yang paling aman adalah melalui ARKAS dan SiPLah, bukan belanja langsung ke toko. Barang yang dibeli melalui SiPLah sudah tervalidasi harganya terhadap harga pasar, sehingga lebih terlindungi dari temuan selisih harga.
Skala Prioritas: Kalau Pagu Terbatas, Beli Apa Dulu?
Kesalahan umum sekolah adalah membelanjakan sisa pagu untuk hal yang paling “kelihatan” di foto, bukan yang paling sering dipakai. Berikut urutan prioritas yang biasanya lebih rasional:
Prioritas pertama: komputer untuk administrasi dan ANBK. Perangkat yang dipakai operator untuk input Dapodik, mengolah data siswa, dan dipakai siswa untuk simulasi ANBK punya nilai guna tertinggi. Satu unit yang selalu hidup lebih bermanfaat daripada lima unit yang menunggu perbaikan.
Prioritas kedua: jaringan dan konektivitas. Ini termasuk kelistrikan dan instalasi internet (kode 05.08.09). Tanpa jaringan yang stabil, laptop baru sekalipun akan tersendat saat gladi bersih ANBK. Sekolah yang sudah punya perangkat memadai biasanya mendapat lompatan mutu lebih besar dari penguatan jaringan daripada dari penambahan unit.
Prioritas ketiga: perangkat pendukung presentasi dan pencetakan. Proyektor untuk pembelajaran, printer untuk administrasi harian, dan scanner untuk digitalisasi berkas masuk kategori yang cepat memberi dampak nyata.
Prioritas keempat: perangkat khusus kebutuhan disabilitas. Kode 05.08.06 dan 05.08.08 secara jelas mengamanatkan penyediaan akses dan perlengkapan bagi peserta didik penyandang disabilitas. Sekolah inklusif yang belum menyentuh pos ini sering kali mengabaikan amanat yang sudah tertulis eksplisit.
Cara Hemat Tanpa Menurunkan Mutu
Ada beberapa pola belanja yang terbukti lebih efisien di lapangan.
Pertama, hitung biaya total kepemilikan, bukan harga beli. Laptop seharga tujuh juta yang tahan empat tahun lebih murah daripada laptop lima juta yang rusak dalam delapan belas bulan. Untuk madrasah dan sekolah dengan pemakaian berat, perhatikan ketersediaan servis, ketersediaan sparepart, dan garansi resminya. Perangkat yang tidak punya jaringan servis lokal akan berakhir menganggur lama saat rusak.
Kedua, pilih perangkat dengan daya listrik rendah bila ruangan belum stabil. Komputer mini PC atau laptop hemat daya jauh lebih tahan menghadapi tegangan naik-turun dibandingkan PC rakitan berdaya besar. Ini juga menghemat listrik sekolah sepanjang tahun.
Ketiga, manfaatkan platform gratis sebelum membeli aplikasi. Untuk kebutuhan dasar, sekolah sebenarnya sudah punya banyak perkakas tanpa biaya: Google Workspace for Education untuk surat-menyurat dan penyimpanan, aplikasi cloud resmi untuk presensi, serta perangkat asesmen daring yang bisa dipakai tanpa langganan. Pembelian lisensi lebih baik dialokasikan hanya untuk kebutuhan yang benar-benar tidak ada alternatif gratisnya.
Keempat, prioritaskan pemeliharaan rutin. Anggaran pembersihan debu dan penggantian thermal paste tahunan terasa kecil, tetapi mampu memperpanjang usia komputer hingga dua tahun lebih. Pos pemeliharaan peralatan (05.08.03) justru jarang terserap, padahal manfaatnya besar.
Kelima, susun RAB berdasarkan data inventarisasi. Sebelum menetapkan angka, lakukan pengecekan fisik setiap unit: mana yang rusak ringan, mana yang rusak berat, mana yang masih layak pakai. RAB yang disusun dari daftar inventaris nyata jauh lebih kuat saat diperiksa dibandingkan RAB yang mengandalkan perkiraan.
Kesalahan yang Paling Sering Ditemukan
Beberapa kekeliruan berulang yang sebaiknya dihindari:
- Membelanjakan menjelang tutup buku tanpa perencanaan. Pembelian mendesak biasanya mengorbankan kualitas dan mengabaikan prosedur.
- Menumpuk pengadaan pada satu komponen. Melebihi batas 20% sarana prasarana berisiko koreksi.
- Mengabaikan kewajiban komponen buku minimal 10%. Pos buku sering dianggap bisa dikorbankan demi membeli perangkat keras.
- Membeli di luar SiPLah. Selain tidak terproteksi harga, bukti transaksinya sering tidak lengkap.
- Menyamakan pemeliharaan dengan pengadaan. Dua hal ini berbeda kode rekening dan tidak boleh dipertukarkan.
Menjaga Bukti dan Dokumentasi
Perangkat TIK mudah berpindah tangan, dan itu justru sumber temuan yang paling sering muncul. Buatlah beberapa kebiasaan sederhana sejak barang diterima:
- Kartu inventaris ruangan (KIR) yang selalu diperbarui. Mencatat nomor seri, tanggal pengadaan, sumber dana, dan posisi barang.
- Berita acara serah terima dan berita acara pemeriksaan barang. Pastikan jumlah dan spesifikasinya sesuai kontrak atau pesanan.
- Foto saat penerimaan barang. Ini melindungi sekolah dari sengketa tentang kondisi barang.
- Catatan pemeliharaan. Buku sederhana berisi tanggal servis, kerusakan, dan biaya akan sangat membantu ketika ada pemeriksaan.
Untuk madrasah yang berada di bawah Kementerian Agama, ketentuan dana BOS mengikuti regulasi tersendiri, tetapi prinsipnya sama: perencanaan berbasis data, pembelian melalui mekanisme resmi, dan dokumentasi yang rapi. Bila status madrasah Anda tidak menerima BOSP melalui ARKAS, tanyakan langsung ke kanal resmi dinas atau kantor kementerian setempat, jangan menyesuaikan pengisian sistem secara menebak.
Menutup Tahun Anggaran dengan Tenang
Poin yang perlu diingat: sisa pagu bukanlah target yang harus dihabiskan, tetapi ruang yang bisa dimanfaatkan bila memang ada kebutuhan nyata. Belanja TIK yang baik selalu bermula dari satu pertanyaan sederhana — perangkat ini dipakai untuk apa dan oleh siapa setiap minggu?
Kalau jawabannya jelas, prioritas akan tersusun sendiri. Mulailah dari inventarisasi fisik, susun RAB berdasarkan temuan, sesuaikan kode rekening dengan komponen yang tepat, lalu tempuh jalur pengadaan resmi. Dengan begitu, ketika tahun anggaran ditutup, tidak ada pertanyaan yang sulit dijawab — semuanya sudah tercatat rapi sejak awal.